Kembar Dempet Perut Asal Lombok akan Dipisahkan di Surabaya
Anaya Rizka Ramadhani (3 tahun) dan Inaya Riza Ramadhani (3 tahun), kembar siam dempet perut dan hati asal Desa Jurit Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur, dirujuk ke RS Dr Soetomo Surabaya untuk menjalani operasi pemisahan, 7 Februari 2022.
Pemisahan balita kembar kelahiran 8 Mei 2019 ini disegerakan, agar tidak menimbulkan perasaan minder karena merasa berbeda dengan yang lain.
Jupri (40 tahun) orang tua balita kembar ini adalah seorang pekerja serabutan buruh bangunan. Sehingga karena ekonomi kurang mampu, Pemkab Lombok Timur membiayai keberangkatan balita kembar ini pada Senin (31/1). Termasuk juga membiayai dana operasi pemisahan Anaya dan Inaya.
Penjelasan dokter medis tentang kondisi tubuh bayi kembar tersebut, dijelaskan berdempetan pada bagian perutnya dan kedua hatinya menyatu (menempel).
Si kembar dilahirkan di RSUD Dr Soedjono yang berjarak 25 kilometer dari desanya. Menurutnya, si bayi kembar sudah mulai mengerti dan sudah berinteraksi dengan sekitarnya. Karenanya, menurutnya, disegerakan operasi pemisahan agar tidak menimbulkan perasaan minder karena merasa berbeda dengan yang lain.
"Psikologis, kenapa berbeda dengan orang lain," ujar Tontowi Jauhari.
Operasi pemisahan Anaya dan Insya dibiayai oleh Pemereintah Kabupaten Lombok Timur. Disiapkan dari anggaran pos tak terduga sebesar Rp1 miliar. Minggu (30/1)pagi, balita kembar ini dijenguk oleh Bupati Lombok Timur, M Sukiman Azmi bersama istrinya, Hartattik.
“Sengaja saya berkunjung langsung, memastikan rencana berjalan baik,” ucap Sukiman.
Untuk melakukan operasi pemisahan ini, telah dibentuk tim yang mendampingi keberangkatan ke Surabaya, hingga proses operasi rampung.
“Cepat sehat ya, cepat kembali lagi ke Lombok, nanti main sama kakek lagi,” kata Sukiman Azmi, mengajak bicara si kembar.
Keduanya, hanya mengangguk kalau diajak berbicara. Sambil sesekali menatap wajah bupati, mereka tampak lebih sibuk dengan ponsel pintar dalam genggamannya.
Baca juga:
Ciputra Group Lirik Investasi di Mandalika
Anayah dan Inayah lahir dari bapaknya, Jupri, 40, sebagai anak kedua dan ketiga dan anak keempat dan kelima dari Husniati.
"Mereka sudah bisa berhitung 1 – 10 dalam bahasa Arab dan Inggris," ujar Husniati.
Mereka juga mampu mengucap nama – nama hari dan bulan. Namun, mereka juga sering merasa malu jika ada yang membuka bajunya ingin memotret bagian tubuhnya yang berdempet. Juga ketika bertemu orang lain, satu diantaranya memintanya masuk ke dalam rumah sambil merapat di tembok atau digendong.
Karena kendala buang air yang tidak bersamaan makan keduanya selalu menggunakan pampers yang selain beli sendiri juga mendapatan kiriman dari lembaga sosial di Mataram, yang berjarak 55 kilometer ke Desa Jurit Kecamatan Pringgasela Lombok Timur.
Penulis : bbn/lom